Langkah Extract/Menggabungkan File ber-PART | Langkah Resume Download dengan Idm
Langkah Download | Via Datafilehost | Via Firedrive | Via Shared | Via Solidfiles | Via 1fichier | Via Filecloud | Via Tusfiles
Showing posts with label Lab. Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Lab. Bisnis. Show all posts

Wednesday, October 22, 2014

Mari Katakan "Bullshit" Dengan Uang

Tak butuh duit untuk memulai bisnis apalagi berserah diri pada modal besar. Ini bukan iguan anak kecil yang kena demam tinggi lalu step. Ini bukan tulisan mbelgedes. Bukan pula kampanye yang mirip dengan tong bermulut besar yang kosong melompong. Tahu ngga jeng? Bank Mega dirintis Chairil Tanjung dengan tanpa modal. Malah lebih parah, kondisi bank itu kedodoran besar-besaran dan sekarat. Dengan saldo merah mencapai 90 miliar. Ih Ngeri!

Kalau Jeng di kasih perusahaan dengan hutang mencapai 90 miliar dan wajib melunasi hutang itu. Mungkin banyak yang angkat tangan atau angkat kaki.  Tapi itu lebih baik dari pada angkat rok! Sebab kalau angkat yang terakhir terus ada aki-aki bungkuk lewat, ia bisa tegak! Lupa sama bongkoknya. Atau mungkin ada yang bilang, kalau di kasih perusahan besar terus mewarisi juga hutang 90 miliar lebih baik menganggon bebek aja. Atau “nyusuin” bebek sekalian. Gila 90 Miliar jeng. Itu cukup untuk ajak orang sedesa berikut segala sesuatu yang ada di situ untuk naik haji. Ck..ck..ck! eh Subhanallah atuh! Bukan ck..ck..ck!

Ok, kita lanjut lagi cerita inspiratif dari pemilik Trans TV ini. Bukan hanya hutang 90 miliar, edannya lagi lebih dari 90 persen kredit di Mega Bank macet total. Tehnologinya juga jadul, norak dan katrok. Nyaris mirip dengan tehnologi  tata kelola kas masjid. Sebab semua nya hanya mengandalkan buku besar. Komputer cuma dua biji. Satu di pakai sekretris direksi di Kebon Sirih Jakarta Pusat dan sebiji lagi ada di Surabaya. Wuedan tenan! Astagfirullah atuh! Bukan Weudan tenan.

Pak CT, demikian ia akrab dipanggil, lantas minta wangsit ke Bank Indonesia kenapa ia yang saat itu sama sekali nol besar dalam bidang ini yang di tawari Arbali Sukanal Direktur Utama Bapindo untuk mengelola bank yang sakit kronisnya minta ampun itu? Pebisnis yang lahir di kawasan kumuh ini tak punya ilmu, pengalaman, atau track record sama sekali di bidang bank! Jawaban dari pihak BI sangat sederhana. Integritas itu jawabannya. Bahwa CT punya integritas yang bagus. Ini juga salahsatu hal yang harus di contoh. Untuk memulai atau membesarkan bisnis maka integritas jadi modal utama bukan uang. Singkatnya,  Mega Bank di beli dengan harga, yang juga wuedan tenan, yaitu Rp 1 doang. Sinting! Sebuah bank besar dengan masalah bengkaknya minta ampun dibeli cuma dengan harga, satu rupiah jeng! Weudan tenan kan? Subhanallah atuh bukan Wuedan tenan!

Usai itu, proses edan berkepanjangan lainnya berlangsung sambung menyambung; rapat gila-gilaan sampai jam 2 malam dibawah penerangan seadanya. Dahar hanya junk food dan segala bentuk pengiritan menjadi sesuatu yang mutlak. Semuanya bersumbu pada satu visi bersama yaitu, harus memutar otak sampai kepala terasa mendidih untuk mencari titik temu bagaimana membuat pemasukan menjadi gendut dan pengeluran jadi ceking, singset bin langsing.

Di perusahaan itu pengeluaran diperlakukan mirip dengan “pinggang” yang diikat sekencang-kencangnya. Mereka kerja dengan sangat sinting  untuk menaklukan berbagai masalah. Dalam konteks peperangan bisnis antar bank mereka sangat kalah jumlah dan peralatan tempur, namun demikian  toh mereka sukses. Sama suksesnya dengan 12 ribu patriot muslim yang yang mampu menggergaji 100 ribu tentara Romawi di bawah kepemimpinan Maukaukis yang mati terkencing-kencing.

Itu lah contoh yang tuan putri harus pancang dengan edan bahwa tidak perlu modal ketika berbisnis. Let’s say mbelgedes dengan uang. Tidak perlu ahli di bidang itu. Tak perlu  harus berpengalaman. Kita hanya perlu keyakinan untuk sukses. Itu inti dari segala inti usaha. Yakin! Itu aja, simple. Habis itu baru deh siapin diri untuk menjadi pemenang dalam proses edan berkepanjangan lainnya yang berlangsung sambung menyambung  seperti di atas.

Yakin sukses! Itu Jurus jitu anti bangkrut. Tidak percaya? Oke saya ceritain sedikit lagi. Saya ada kawan Tukang Nasi Uduk di Ruko Cempaka Mas Jakarta Pusat. Awal merintis usaha modal dengkul. Malah pinjam sama orang tua. Tepat  jam 3 pagi ia sudah bangun. Bukannya tahajut malah “menyembah” kompor langsung memasak. Ia  juga malas atau sebutlah “alergi” salat. Tapi ia yakin dagangnya sukses. Dalam seminggu, itu dagangan yang menurut  sebagian orang bisnis kampungan atau tidak bonafid, malah mampu memetik hasil 2,5 juta. Jika  sebulan, maka 10 juta dipegang. Kantongnya jadi gendut. Suer! Gaji manager mah lewat. Kalah sama dia. Itu segitu tidak salat. Apalagi kalau menjaga salat di tambah tahajut, Dhuha dan lain-lain. Saya yakin penghasilannya wuedan tenan.

Sementara teman lain yang pencundang selalu bilang ah, itu sudah rezeki dia. Belum tentu rezeki kita sama kalau merintis usaha. Aduh Jeng! pencundang memang begitu. Selalu pintar berdalih! Jago beralasan. Tidak berani mencoba peluang. Selalu berlindung di balik telapak kaki rasa syukur. Ah syukuri aja pekerjaan yang ada. Sementara ada dengki yang terbersit ketika melihat teman yang lebih bodoh dari dirinya sukses ketika berusaha. Syukur yang sejati itu bertumbuh. Ia tidak diam di satu titik. Tengoklah bagaimana pohon bersyukur. Bayangkan kalau berkerja lalu besok nya di pecat. Atau bos nya mendadak tertipu. Hartanya ludes di pelorotin cewek matre. Lalu perusahaan tempat ia berkerja bangkrut. Apa masih bisa bersyukur?

Ingat Ya Jeng. Nabi tidak pernah jadi karyawan orang. Dan Usaha adalah salahsatu jalan kenabian! Lagi-lagi orang pencundang akan bilang, ah itu kan nabi, kita mah bukan Nabi. Susah kalau usaha. Aduh ini “onta” memang  pecundang. Hanya pintar berasalan. Sayang lho jeng jika kepintaran itu hanya dipergunakan untuk berdalih. Liat kisah CT di atas ia tidak pintar berdalih.  Ia sibuk berusaha dan berkerja sampai sinting dan walau tidak cukup modal bahkan usaha yang dirintisnya punya utang 90 miliar, pengusaha yang pernah gagal jadi suplayer alat kedokteran ini tetap yakin sama Allah.

Bank Mega yang dibangun ulang oleh anak singkong yang lahir dari perut kemiskinan dan memulai usaha dari nol itu dalam waktu 3 tahun mencatatkan keuntungan240 Miliar di tahun 1999 ketika perekonomian Indonesia mencret-mencret dan ratusan perusahan besar terkapar digulung badai krisis ekonomi. Wuedan tenan kan!  Bismilah Yakin sukses! Yakin! Dan Yakin! Tapi kalau pecundang akan bilang bisa ngga Ya? Sukses tidak ya? Cerita sukses di atas itu Cuma CT aja, lantas kita mah belum tentu! Aduh keras banget ini kepala pecundang.  Simak ya Eric Berne pernah mengingatkan.  Seorang pecundang tidak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tapi sesumbar tentang apa yang akan dilakukannnya bila menang.  Sedang pemenang tidak akan berbicara apa yang akan di lakukannya bila menang. Tapi tahu apa yang akan dilakukannya bila ia kalah.

Aa Djamaludin

Tuesday, October 21, 2014

Dari Hutang Ratusan Juta Sampai

Dari Hutang Ratusan Juta Sampai “Ngopi” Karena Allah

Oleh: Abimikail

 

Bismillah wal hamdulillah. Saya tulis surat ini dengan dengan cinta yang sangat bersahaja. Dengan cinta itu pula lah, kalau orang lain panggil ustadz, punteun ya kalau saya panggil Mamang. Jangan ngambek ya Mang. Karena kalau Mamang marah, nanti sewaktu main ke rumah, tidak “lucu” sekiranya saya tidak dikasih kopi lagi. Sebab kalau lagi ngopi bareng Mamang. Saya sering sempoyongan dalam kebesaran Allah. Pada setiap gelas kopi ada secangkir kebesaran Allah yang bikin trance, mabuk ketuhanan,  atau fana’ dalam tradisi sufi. Segala konsep kebanggaan diri cair, persis seperti lagu Bengawan Solo: mengalir sampai jauh.

Saya memanggilnya Mang Nur, Mamang itu seperti pak le’ bagi orang Jawa.  Saya ingat dulu pada satu peristiwa “lucu” ketika tertipu ratusan juta rupiah. Dan Punya utang ratusan juta juga. Salah satu guru sepuh -sebetulnya saya pengen tulis guru tua. Tapi, ah.. nanti Mamang ngga kasih kopi lagi kalau main ke sana- di SD Islam Cikiwul al-Hamidiyah, Cikiwul Bekasi ini pernah ngebejek-bejek kesadaran saya. Kalau punya kakak perempuan tolong lebih di perhatikan, begitu Mamang ingetin.

Halus banget. Tapi saya seperti di gergaji. Saya yang ketika itu tengah tertipu, terpelanting dan terjerat “semak belukar” hutang seperti dibetot kembali.  Tak hanya tentang kakak. Dosa juga alfa, Satu per satu Allah hamparkan di fikiran. Oh ini toh akar masalahnya. Tapi ini bukan Mang Nur. Ini Allah nih. Allah yang merendahkan diri. Allah yang “meminjam” suara Mamang untuk mengingatkan. Mang, saya dugem : duh gemetar waktu itu. Mamang ngga mungkin tahu. Sebab hanya Allah, keluarga, tetangga juga orang terdekat yang tahu kalau saya punya kakak perempuan yang “istimewa.” ini gimana matematikanya?  Fisikanya seperti apa? Metode ilmiah sebelah mana yang dipake sampai bisa tahu begini?

Asli, saya bingung Mang. Mungkin seluruh sanak saudara metode ilmiah, termasuk matematika Quantum, fisika nuklir atau ilmu tingkat tinggi manusia bakal terperanjat kalau disuruh mengurai ini. Waktu itu saya jadi “pengen” malu sama Allah. Ya Allah, Ia telah “selesai” dengan dirinya. Sementara saya masih nombok. Saya masih terhuyung-huyung, jangankan untuk cari jati diri. Untuk bayar hutang ratusan juta saja megap-megap.

Saya cemburu banget waktu itu. Saya cemburu karena Allah. Mamang sudah jadi “setetes air” dalam samudera kebesaran Allah. Sementara saya, kalau dalam matematika saya ini minus. Jangan kan jadi sesuatu. Sesuatu yang sudah ada malah hilang digondol orang. Apa yang bisa dibanggain dari orang so’pinter yang ketipu sama orang bodoh?  Apalagi Ketipunya ratusan juta, belum lagi hutang yang berhektar-hektar, waduh jadi pengen nyampo nih! Hehe...

Ngga nyambung ya Mang. Maklum aja namanya orang lagi galau. Waktu itu kecerdasan mengkhiyanati saya. Ini akal juga ikut-ikutan “selingkuh” Sebab fikiran saya bersedia begitu saja diperdaya itu penipu. Tapi Segala Puji bagi Allah masih ada yang tersisa, yaitu misi saya untuk secepat mungkin bangkit. Bangun dan bergerak karena Allah. Saya juga punya visi, kalau akar masalah kita didalangi karena faktor X. Maka dengan faktor X pula harus diselesaikan. Kalau saya bekerja normal, sampai banting tulang bagaimana pun atau sampai tulang terbelah tujuh tidak mungkin hutang terbayar. Setelah itu, lama kita tidak silaturahim. Tapi Mamang masih ada di sini, thawaf dalam kesendirian hati. Saya juga sering “goreng” Mamang setiap hari. Apalagi kalau bengong, nasihat Mamang, saya bolak-balik layaknya tempe mendoan. Selama ini saya memang jarang perhatiin yang kecil-kecil. Selalu suka sama segala yang Besar. Bisnis yang besar. Ide-ide yang besar. Proyek-proyek besar. Tapi lalai lapor sama Yang Maha Besar. Astagfirullah!

Saya masih ingat agar “semak belukar” hidup pada meranggas atau biar dapat pertolongan Tuhan, Mamang  waktu itu nyuruh saya melafadzkan 40 ribu kali Nama Tuhan dalam semalam. ‘Di sana, Mamang mimpi saya naik ke gunung, tapi ketika mau sampai ke puncak, Mamang lihat saya turun tiba-tiba. Pada saat yang sama, di sini di rumah saya, pada hitungan ke 30 ribu saya tertidur.  Saya hilang bentuk. Tubuh saya jadi lebur. Otot, tulang, dan seluruh inci tubuh saya menjadi tiada, yang meraja hanya ayat. Ayat-ayat kebesaran Allah. Ah lagi ngiler aja pake dipuitisasi: pake segala lebur, pake segala tiada. Kalau tidur semua orang juga hilang bentuk. Dasar Paijo!

Setelah 7 tahun saya baru faham fenomena ketiduran itu. Saya kudu “menidurkan” segala tentang nafsu. Segala “keakuan” saya, seluruh “kegenitan” spiritual juga ego intelektual harus hilang bentuk. Saya harus lebur dalam kebesaran Allah dan saya tak boleh ikut membesar. Sebab, itulah tapal batas spiritualitas. Kalau turut membesar berarti ada dualisme kebesaran. Dan sungguh, ini bertabrakan dengan doktrin tauhid. Kalau menurut urang sunda, sama aja ngajak ngesang (ngajak berantem) sama Tuhan.

Mamangku sayang, waham kebesaran ala Sherlok Holmes ini tenyata sebuah jebakan yang lugu ya. Ia innocent, dan halus. Ia lebih lembut dari partikel cahaya. Ia lebih “pemalu” dan lugu dari para putri, perawan kastil yang dipingit dalam kisah romantis abad pertengahan. Saking “lugunya”, Mamang mengingatkan, bahwa banyak tokoh besar dan agamawan besar yang mengalami oksidasi. Tidak sadar kalau tauhidnya sudah jamuran. Dan ketika meraksasa Tuhan -dan segala KebesaranNya- dalam asosiasi mereka turut jamuran. Inilah kutukan yang “menyenangkan”, penyakit para pembesar Astagfirullah

Menurut Mamang saya bakal tidak “lucu” lagi kalau ikut-ikutan begitu. Ketika kita besarkan Allah dan pada saat bersamaan kita harus “rebah berkalang tanah.” Kalau Allah membesar lantas kita rebah, mengecil, meniada, menurut Mamang kita bisa “naik kelas.” Jika para sufi tingkat tinggi naik ke maqam taubat atau Maqam Mahabbah (cinta). Mungkin dari maqam besar si tukang hutang, saya naik jadi maqam pembayar hutang. Bisa begonoh saja itu cukup, Mang.

Biarlah Mang, biar maqam mahabah identik dengan Rabiah al-Adawiyah. Biarlah maqam istiqamah, maqam taubat atau maqamat “langitan” lain menjadi milik para sufi. Biar al Hallaj terpenggal dengan hululnya. Biarlah Ibnu al-Arabi lebur dalam wihdatul wujudnya. BiarlahAbu Said bin Abil Khairmenjadi elangnya danAbdul Qadir Jaelani menjadi singa para sufi. Biarlah saya terpelanting diantara “Telapak Kaki” Kemahaan-Nya. “Telapak-Kaki” Nya Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Cukup bagi saya Allah. Setelah itu baru puas hati bisa sampai maqam pembayar hutang. Kelak, saya ingin naik lagi, saya ingin melanglang buana ke maqam tukang kasih hutang. Dan saya berusaha Ngga akan memaki apalagi melumat mereka yang telat atau males bayar.

Sebab kalau ingat waktu diuber hutang dulu- mereka keji sekali. Itu hari-hari amat ngeri. Ngeri sekali Mang. Pada hal itu duit digondol orang, tidak saya makan. Tidak pula ada ikatan tertulis. Padahal kalau saya wanprestasi, bisa aja jadi si lidah sakti yang cidera janji. Dan segala puji bagi Allah, saya bisa sampai ke maqam itu. Bisa cicil hutang sekaligus kasih teman ngutang. Lucunya lagi, 99 persen dari mereka, pura-pura lupa atau dalam bab salat mereka tengah “menstruasi” dari hutangnya. Tapi tetap saja, hal ini tidak mengurangi rasa syukur pada Allah. Dan tentu aja terima kasih untuk Mamang. Biar Mamang seneng. Kalau bikin Mamang –atau orang lain- senang, di samping dapat pahala, insyallah Mamang kasih saya lagi kopi. Kita ngopi bareng-bareng lagi karena Allah. Dapat pahala lagi dah! Alhamdulillah….

 

previous home
Copyright © 13 Januari 2012 - 16 Juni 2014 MAJALAH MATAHATI. All Rights Reserved.
Template by : MAJALAH MATAHATI. Contact us: Click Here